Ari Pudjiastuti

Cucuku senang memanggilku Uti. Hobby travelling. Setiap ada perubahan selalu nembuatku bersemangat. Kenapa? Karena ada hal baru yang bisa dipelajari. Tentu saja...

Selengkapnya
Pernikahan Dini di Kampung Sade

Pernikahan Dini di Kampung Sade

Minggu kemarin, tanggal 13 Mei 2018, di sela-sela tugas ke Lombok Tengah, saya bersama teman-teman mampir ke Kampung Sade. Sade adalah sebuah dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun yang memiliki luas 2,5 hektar ini terletak di pinggir jalan raya. Dusun ini sudah banyak dikenal wisatawan baik domestik maupun mancanegara karena keunikannya. Unik karena mereka masih mempertahankan beberapa budaya suku Sasak dalam kehidupan sehari-hari. Kampung Sade ini merupakan salah satu kampung suku Sasak dan masih ada 8 kampung lagi yang tersebar di Nusa Tenggara Barat. Kampung Sade ini memiliki ketua adat. Pemilihan ketua adat dilakukan secara musyawarah. Dan selama ini tidak ada perselisihan dalam pemilihan ketua adat. Proses penggantian ketua adat dilakukan saat ketua adat meninggal atau yang bersangkutan minta diganti karena sakit. Kampung Sade ini didiami oleh 150 Kepala Keluarga yang berjumlah 700 orang. Setiap keluarga memiliki rumah adat Sasak yang disebut Bale. Ada delapan bale yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bale-bale itu dibedakan berdasarkan fungsinya.

Pemandu kami yang bernama Salim ini mengajak kami singgah ke Bale Tani yang artinya rumah petani. Bangunan rumahnya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar. Rata-rata berukuran 7x5m. Beratap ijuk/rumbia dengan memakai kuda-kuda bambu tanpa paku. Tembok menggunakan anyaman bambu. Pintu masuk sempit dan pendek. Untuk masuk ke rumah kami harus menunduk. Ini ada filosofinya. Artinya kami harus menghormat jika memasuki rumah. Keunikan lainnya adalah tentang alas rumah yang terbuat dari tanah liat. Mereka mengepel lantainya menggunakan tahi (kotoran) kerbau. Menurut Salim supaya tumahnya hangat dan tidak ada nyamuk. Ruangan terdiri dari dua ruangan. Ruang bawah untuk ruang tamu, kemudian untuk masuk ke kamar menggunakan 3 anak tangga ke lantai atas. di lantai atas terdapat dapur dan kamar tidur. Mereka masih menggunakan kayu dan tungku untuk memasak. Listrik sudah masuk ke kampung ini, meski mereka mempertahankan lampu minyak jarak untuk acara tertentu. Sempat terbesit juga mengenai keamanan rumah, mengingat material rumah sangat rentan terhadap kebakaran. Namun pemandu kami menceritakan bahwa sejak kampung itu berdiri belum pernah terjadi kebakaran.

Saat berkeliling desa, salah satu yang menarik perhatian saya adalah ibu-ibu yang menggendong bayi. Mereka masih tampak sangat muda untuk memiliki anak. Apa mereka melakukan pernikahan dini? Pertanyaan itu terjawab manakala pemandu kami menceritakan bahwa perkawinan di kampung Sade untuk laki-laki sekitar usia 20, sedangkan perempuan rata-rata di usia 16 tahun. Itupun sudah melalui beberapa syarat diantaranya untuk anak perempuan harus bisa menenun. Jadi sejak usia 8 tahun, anak perempuan sudah mulai belajar menenun. Ini salah satu upaya melestarikan budaya Sasak. Hasil tenunan dijual di kampung Sade. Tapi jangan kaget kalau mereka menawarkan kain tenunnya dengan harga tinggi, karena mereka memiliki budaya tawar menawar. Mereka tidak akan marah jika kita menawar hasil karyanya.

Pernikahan di suku Sasak seperti halnya adat di Lombok, menggunakan adat “kawin lari”. Pihak laki-laki di malam hari mengajak gadis yang akan dipinangnya untuk “lari” dan bersembunyi selama 24 jam (di keluarga pihak laki-laki) tanpa ketahuan pihak keluarga perempuan. Menurut info pemandu kalau ketahuan pihak keluarga perempuan, maka anaknya bisa diambil kembali dan rencana pernikahan bisa gagal. Setelah 24 jam barulah pihak laki-laki memberi tahu ke pihak keluarga perempuan kalau anaknya dibawa. Kemudian terjadi musyawarah untuk menikahkan kedua anak mereka. Pernikahan dilaksanakan di pihak laki-laki. Peristiwa ini dikenal dengan nama “merarik”.

Kampung yang masyarakatnya 100% muslim ini sekarang sedang sibuk menyiapkan diri menyambut Ramadhan. Mereka mengadakan dzikir menjelang puasa yang disebut dengan “bungkatan”. Mereka meramaikan masjid dengan sholat tarawih dan memperbanyak dzikir. Kampung Sade memiliki dua kyai yang mereka segani. Sayang saya tidak sempat sowan ke rumah kyai tersebut. Pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan (malam lailatul qodar) masyarakat kampung Sade memperingatinya dengan menyalakan lampu minyak jarak di setiap rumah. Di hari lebaran, kampung Sade memperingatinya dengan menyajikan tarian-tarian daerahnya menyambut tamu para wisatawan yang membanjiri kampung Sade.

Kampung yang mempertahankan keunikan adatnya ini sekilas terlihat tidak tersentuh teknologi. Namun mereka tidak sepenuhnya menolak perkembangan teknologi. Mereka masih mempertahankan keaslian budayanya, namun bisa menerima perubahan seperti: menggunakan listrik, memiliki sepeda motor dan beberapa anak muda kampung Sade juga memiliki handphone.

Jadi jika anda ke Nusa Tenggara Barat, jangan lewatkan mampir ke Kampung Sade. Hanya 20 menit dari bandara internasional Lombok. Inilah Indonesiaku!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mantap Bunda Ari. Membaca reportase njenengan serasa saya ikut traveling ke kampung Sade.

15 May
Balas

ato bu kesana

21 May

ato bu kesana

21 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali